plain means delicious
Jumat, 02 Juli 2010
Kesimpulanku dari tiga pengarang yang berbeda
Karena aku mengalami kebosanan membaca novel dengan tema yang sama (misteri-tema yang kusukai dari dulu, dan hanya satu pengarang yang aku suka), aku memutuskan untuk membaca tema baru. ROMANCE. Pertama aku tidak pernah tahan membaca novel seperti itu karena tidak mengerti kisah percintaan (twilight saga merupakan pengecualian, dengan genre ROMANCE-vampire, yang parahnya lebih kental romance nya, aku cuma sanggup membaca 2 dari 4 novelnya). Aku memutuskan untuk membaca novel dengan tema tersebut. Mungkin karena sekarang lebih mengerti jalinan kisah percintaan. (dulu cuma bisa bengong kalau nonton film dengan tema seperti itu, tapi sekarang sudah bisa merasakan yang namanya terharu). Tapi tetap saja aku tidak bisa membaca novel romance dengan setting jaman sekarang-jaman modern, karena rasanya seperti bacaan yang terlalu mudah (no-offense, semua kembali kepada selera). Sehingga aku tertarik kepada genre historical romance. Aku baru tahu ada genre seperti itu. Kebetulan demam Jane Austen sedang melanda, dan karena aku memang suka yang klasik. Jadi rasanya klop.
Pilihan jatuh kepada Julia Quinn, kebetulan merupakan novel yang baru terbit, dan aku tertarik pada novelnya yang berjudul “Romancing Mr. Bridgerton”. Sinopsisnya menarik. Dan aku mulai membacanya. Bagi yang sudah pernah membaca karya Julia Quinn khususnya yang menceritakan Bridgerton Family, siapa yang tidak akan terpesona oleh keberadaan keluarga Bridgerton ini. Semua orang jelas-jelas akan menyukai mereka. Seperti yang penulisnya gambarkan di dalam novelnya. Delapan bersaudara, empat pria dan empat wanita, dengan nama yang berurutan seperti alfabet: Anthony, Benedict, Colin, Daphne, Eloise, Fransesca, Gregory, dan Hyacinth, mempunyai tipe wajah yang nyaris sama, tampan-cantik dengan rambut cokelat, dan dengan pembawaan yang menyenangkan! Sungguh menyenangkan membaca kisah percintaan mereka.
Dari empat novel Bridgerton yang sudah kubaca, kusimpulkan kalau novel-novel ini menyenangkan, dengan konflik yang terasa ‘menyenangkan’ dalam artian meskipun ada yang sedih, tapi pembaca dijamin tetap akan merasa bahagia. Karena memang atmosfer utama yang terasa adalah menyenangkan. Dan karena sifat tiga laki-laki tertua yang sungguh menjadi idaman para wanita (kalau memang nyata), membuat kita yang membaca seringkali tersenyum sendiri membayangkan tingkah laku mereka.
Dan pengarang yang kedua adalah Lisa Kleypas. Aku membaca novelnya yang berjudul “Devil in Winter”, karena sinopsisnya yang cukup menjanjikan. Jalinan cerita yang bagus, aku sangat terharu hingga menangis. Ya, bisa disimpulkan kalau Lisa Kleypas ahli dalam membuat cerita seperti ini. Konfliknya terasa jelas, dengan cerita yang lebih menghebohkan. Karena sangat suka pada satu tokoh yang bukan tokoh utama yaitu Cam Rohan, aku membaca novelnya yang lain dengan judul “Mine till Midnight” dengan Cam Rohan menjadi tokoh pria utamanya. (Oh ya, satu hal yang tidak kumengerti adalah alasan atau pertimbangan Lisa Kleypas dalam memberikan judul pada novel-novelnya). Sayang sekali novel kedua yang kubaca sedikit mengecewakan. Dengan jalinan cerita khas Lisa Kleypas, sedikit mendayu-dayu dan spektakuler, tapi endingnya terasa biasa saja. Sayang sekali.
Dan yang terakhir adalah karya dari Eloisa James, dengan judul “Pleasure for Pleasure”. (katanya judul novelnya terinspirasi dari salah satu karya William Shakespeare yang berjudul “Measure for Measure” – kalau aku tidak salah mengutip). Karena sudah membaca karya-karya dari dua pengarang berbeda, ketika membaca novel yang satu ini, tentu saja ekspektasiku menjadi cukup berlebih. Kebetulan novel ini salah satu dari novel yang menceritakan tentang empat gadis Essex bersaudara, dan menceritakan adik terakhir yang belum mendapatkan jodohnya. Karena aku memilih novel terakhir, dan belum pernah membaca novel sebelumnya, tentu saja aku menjadi asing dengan para tokohnya. Dan ada satu perbedaan besar yang membuat aku bingung pada awalnya, penceritaannya dari semua sudut pandang para tokoh di dalam cerita! Dan tentu saja hal ini membuat aku tidak bisa menebak ceritanya atau kemungkinan tokoh utama akan berakhir dengan siapa, karena banyaknya kemungkinan yang tercipta. Berusaha menebak-nebak dan ternyata benar. Menjadikan novel ini menarik, karena dari sudut pandang semua orang. Dan tentu saja membuat hal tersebut menjadi kelemahan utama karena pendalaman karakternya menjadi berkurang. Tapi mungkin tidak seperti itu jika aku membaca tiga novel sebelumnya.
Dan dari ketiga pengarang tersebut, aku akan menyoroti bagian keintimannya (dalam arti sebenarnya). Karena novel-novel tersebut adalah novel dewasa, jadi aku memaklumi kalau akan muncul cerita mengenai bagian tersebut. Cuma yang menjadi sorotan adalah, seberapa penting bagian tersebut harus muncul, dan seeksplisit apakah penceritaannya, karena novel-novel tersebut bukanlah jenis novel erotica, tapi novel romance! Karena jika penceritaan bagian tersebut menjadi lebih eksplisit, tentu saja ceritanya akan menjadi lebih bergeser, dari penekanan romance beralih menuju kegiatan yang berakhir itu-itu saja.
Kekecewaan yang aku dapat ketika membaca novel Lisa Kleypas “Mine till Midnight”. Jalinan cerita yang sudah bagus tetapi endingnya tidak menggigit, seperti dipaksa selesai. Mungkin karena ada banyak halaman yang diboroskan untuk menjelaskan secara eksplisit tindakan kedua tokoh utamanya. Kalau cuma sekali bisa dimaklumi, kalau berkali-kali? Sangat disayangkan.
Di novel-novel Julia Quinn, munculnya adegan tersebut tentu juga ada, tapi bahasa penceritaannya cukup ‘lembut, tidak terlalu eksplisit. Sehingga bisa dipastikan cerita tetap berjalan di jalurnya.
Dan yang paling menyenangkan adalah ketika membaca Pleasure for Pleasure nya Eloisa James. Pertama aku pikir, jangan-jangan ini salah satu novel eksplisit lagi, karena membaca setiap kutipan memoar Earl of Hellgate di tiap awal bab (seperti lembar lady Whistledown di beberapa karya Julia Quinn). Tapi itu seperti tipuan, karena di novel ini sungguh-sungguh tidak eksplisit! Cuma ada satu, dan dimaklumi. Sehingga tidak ada halaman yang terbuang-buang. Ceritanya menjadi sangat konsisten, dengan terkuaknya beberapa misteri yang menjadi bumbu dalam cerita.
Novel terakhir yang kubaca yang menyenangkan. Karena aku terlalu banyak membaca novel seperti ini (sama kasusnya ketika aku dulu terlalu banyak membaca novel misteri), yang lama-lama akan terasa membosankan. Seperti pepatah atau hadits? Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Sehingga setelah ini aku akan membaca buku mengenai ESQ. Diwajibkan oleh abahku untuk kubaca, untuk mengimbangi terlalu banyaknya buku duniawi yang kubaca. Hal ini juga bagus buatku, memberikanku perspektif baru tentunya, dan juga yang kuharapkan, semangat baru.
Kamis, 24 Juni 2010
klasik, historical romance
gara2 baca novelnya Julia Quinn (jarang2 baca novel romance),, aku tertarik beli karena ceritanya historical romance gitu.. eh g taunya malah ketagihan..
pas baca,, aku ngebayangin settingnya di masa 'pride and prejudice',, jd masih di masa inggris feodal gitu,, yg mana aku suka banget.. masih pake gaun2 dan yg adatnya masih ‘strict’ bgt,, sama derajat sangat berpengaruh..
dan seperti biasa,, gara2 satu hal pasti akan berbuntut banyak.. aku g cuma baca novel historical romance,, tp sampe ke film juga.. kalau cuma baca novel aja pasti rasanya masih ada yg kurang,, jd cari2 film yg bersetting di masa itu.. karena novel2 julia quinn belum ada yg difilmkan,, jadi nyari film yang lain.. maunya nyari film pride and prejudice (yg pemerannya keira knightley),, tp sayangnya jg g ada.. tapi aku nemu filmnya jane austen lain yg baru rilis,, judulnya 'sense and sensibility' adaptasi BBC..
pas nonton sense and sensibility (bareng ama sepupuku),, seneng banget karena ceritanya g ketebak.. kebetulan aku memang belum pernah baca novelnya,, jd pas nonton bener2 murni ngikutin cerita yg di film.. dan seneng banget pas ending filmnya benar2 tak terduga.. so sweet banget.. dan sepupuku jadi tertular virus klasik historical romance jg..hehe
trus setelah itu aku ke jakarta (minggu lalu gitu) dan sepupuku ngasih tau film jane austen yg lain yg aku belum nonton yg judulnya 'persuasion'.. wahh,, aku langsung nyari tu film dan untungnya dapat.. tp dlm bentuk vcd,, bukan dvd.. jd kualitas gambarnya tidak sebaik dvd,, tp gpp,, yg penting dapet..=)
waktu itu juga beli 'four weddings and a funeral',, tp belum selese ditonton..
hunting di Jakarta g cuma film doang,, tp ama buku juga.. pas aku ke toko buku,, aku beli karya Julia Quinn yg lain.. ‘the duke and I’ dengan ‘the lost duke of wyndham’.. di toko buku yg lain,, aku seneng banget karena aku nemu novelnya jane austen!! Dalam bhs inggris.. Cuma 3 judul yg aku beli: ‘sense and sensibility’,, ‘emma’ dan ‘pride and prejudice’.. baru baca sebagian ‘pride and prejudice’.. rada susah bacanya.. karena grammarnya yg kerasa beda.. jelas aja karena novel itu dibuat di tahun 1800an awal.. tp gpp,, bacanya pelan2 aja..
trus pas udah pulang lg ke bpp,, aku ke toko buku lagi dan nemu film dengan setting klasik,, judulnya jane eyre (mini series 4 episodes).. BBC lagi.. pas pertama nonton aku kaget banget,, aku pikir film horror.. maklum aku kan takut dan g suka ama film horror,, jadi aku cuma ampe episode 1 doang.. trus aku searching di internet,, nyari2 ttg ceritanya.. trus lega karena ternyata bukan horror..hehe.. jadi pas nonton episode berikutnya dah tau ceritanya..
jane eyre ceritanya bagus.. happy ending,, tp ceritanya sedih dan sangat menyentuh.. g cuma romance aja,, tp moral jg ada.. menurut wikipedia,, novelnya mencakup banyak hal.. makanya novelnya sukses.. oiya,, novelnya jg dah lama banget,, kl g salah tahun 1700an akhir..
dan sekarang tentu saja aku masih terus hunting.. aku pengen nyari film adaptasi novel jane austen yg lain: emma,, mansfield park,, northanger abbey.. mudahan dapet..hehe
Sabtu, 08 Agustus 2009
Minggu, 21 Juni 2009
baby boomer
"baby boomer"... tiba-tiba abah bilang kata-kata ini,, di dalam perjalanan ketika aq mengantar abah&mama ke bandara siang tadi..
"abah itu generasi baby boomer".. trus aq langsung bilang,, "hah,, baby boomer?? trus kl aq berarti generasi X ya bah?? ato generasi MTV??hehe,, aq dulu pernah baca tentang baby boomer,, tapi g ngerti itu istilah apaan,, tau nya cuma itu istilah suatu generasi..."
abah bilang,, "kamu juga udah bukan generasi X,, tapi dah menuju generasi digital,, dimana anak-anakmu nanti g akan bisa menulis lagi,, tapi mengetik.. trus udah g perlu bertemu orang lain secara langsung,, karena semua udah dilakukan melalui internet [contoh: facebook].. trus pasti orang-orangnya gendut-gendut.."
aq jawab,, "ya iyalah bah,, secara cuma duduk di depan komputer terus.. jadi ngeri.."
kata abah,, baby boom generation tu generasi dimana setiap orang tua punya banyak anak [contohnya orang tua abah punya 8 anak],, makanya abah bilang abah tu merupakan bagian dari baby boomer...trus generasi ini munculnya di tahun berapa gitu.. info pasti cek saja di wikipedia.org,, hehe..
abah lebih kaget koq aq bisa tau istilah itu.. aq memang dah g baca koran lagi,, karena dah tergantikan internet,, trus kalau misalnya aq baca suatu artikel tp g ngerti,, aq pasti langsung buka wikipedia.. waktu itu pernah ngebaca baby boom generation,,kayaknya aq jadi tau istilah itu gara-gara generasi MTV deh..trus meleber kemana-mana...
Intinya adalah,, sekarang jadi tau maksud dari istilah baby boom generation..hehehe:P.. tapi yg generasi X masih belum ngerti,,harus baca referensinya dulu..
trus abah minta dikasih artikel/data jelas mengenai baby boomer dan baby boom generation...akan segera kukasih...hehehe
sungguh pembicaraan yang menarik dengan abah..:)
Senin, 08 Juni 2009
belajar mencintai [arsitektur]...
Minggu, 10 Mei 2009
konsumerisme??
review mengenai konsumerisme...terinspirasi setelah membaca buku SAYA BERBELANJA, MAKA SAYA ADA oleh Haryanto Soedjatmiko.. aku menulis ini untuk mengurangi tindakan konsumtif yang sering aku lakukan...hehe
karena adanya globalisasi, masyarakat rentan sekali akan budaya kapitalisme...
mengetahui justru semakin membahayakan...
membuat diri menjadi lupa dengan standard hidup...
karena terpola dengan gaya hidup orang luar...(akibat pengaruh globalisasi tadi)
budaya kapitalisme merujuk kepada konsumerisme...
sekarang bagaimana membentengi diri dari tindakan konsumerisme ini??
shopping mall adalah tempat yang berbahaya...
karena adanya pergeseran gaya hidup, tempat rekreasi bukan lagi di taman melainkan di mall..
dimana berbelanja dianggap tindakan rekreatif (ternyata mengerikan kalau dijabarkan seperti ini)...
mungkin cara membentengi yang pertama adalah kembali kepada esensi konsumtif atau konsumerisme...
bila dilakukan seperlunya atau wajar, mungkin tidak akan memberikan efek buruk.
shopping mall merubah segalanya...memberi pergeseran gaya hidup yang menjerumuskan masyarakat ke dalam tindakan konsumerisme...
tempat rekreatif...
berupa taman?? tempat dimana kita bisa bermain, duduk tenang sambil membaca, sambil melihat keadaan di sekitar...
isu pembangunan taman di suatu kota dianggap cukup penting...agar masyarakat mempunyai tempat rekreasi selain shopping mall...
taman kota, atau city walk...plaza/piazza...well,, di indonesia jarang sekali ditemukan..
di yogyakarta:
terdapat 4 shopping mall yaitu:
mal malioboro, mal galeria, ambarrukmo plaza dan saphir square...
mulailah mengubah gaya hidup, kalau penat, jangan ke mall, tapi ke tempat lain...
mungkin ke kafe untuk menikmati hidangan dan menenangkan diri...
at least, jangan belanja...
kafe di jogja yang 'nyaman' dan enak:
1. via-via... pelayanannya yang homy banget, kesan santai membuat nyaman pengunjung,, cuma harganya agak mahal karena harga 'bule'
2. frappio... tempatnya lumayan,, dengan harga yang terjangkau...
3. momento... [agak susah menjelaskannya],, tempat yang nyaman, ada pohon di dalam kafe... makanannya enak2...harga tidak terlalu mahal...
kemudian di jogja sendiri ada beberapa taman, yaitu:
1. taman pintar.. sayangnya peuntukannya untuk anak-anak... sehingga ya bagi orang dewasa agak 'gimana' gitu... tapi tempatnya bagus...
2. alun-alun... tempat terkenal di jogja... udah ada dari pertama kali keraton jogja ada... cuma ya alun2nya masih tradisional,, ditambah g nyaman karena banyak pengamennya...
kalau pantai??
yang terdekat adalah pantai parangtritis...jangan bandingkan dengan pantai2 di bali...
pantai parangtritis mempunyai keunikan tersendiri...
bagaimana dengan hobi??
jadi tidak berbelanja di mall,, melainkan memenuhi kepuasan di hobi,, seperti:
1. well, aku suka banget membaca... bagaimanapun,, jauhkan aku dari toko buku kalau tidak aku akan konsumtif...hehe
2. aku juga suka banget nonton bioskop...:P
3. karaoke... wah2,, hobiku memang sangat konsumtif...
4. bowling... menyenangkan bukan?? dengan harga yang tidak terlalu mahal...[sayangnya yang ini sangat jarang dilakukan]
ada rencana untuk jalan2 ke museum,, ke keraton yogyakarta,, nonton ramayana ballet...
bukan lagi konsumtif... not buying things, but buying experince...^^
jadi kurangi belanja di shopping mall...jangan belanja barang tapi belanja experince...