Aku membaca karya-berupa novel dari tiga pengarang, yang mempunyai kesamaan tema: historical romance. Pertama dari pengarang Julia Quinn, Lisa Kleypas dan yang terakhir adalah Eloisa James. Karena telah membaca masing-masing dari karya mereka, tentu terbersit untuk membandingkan karya mereka.
Karena aku mengalami kebosanan membaca novel dengan tema yang sama (misteri-tema yang kusukai dari dulu, dan hanya satu pengarang yang aku suka), aku memutuskan untuk membaca tema baru. ROMANCE. Pertama aku tidak pernah tahan membaca novel seperti itu karena tidak mengerti kisah percintaan (twilight saga merupakan pengecualian, dengan genre ROMANCE-vampire, yang parahnya lebih kental romance nya, aku cuma sanggup membaca 2 dari 4 novelnya). Aku memutuskan untuk membaca novel dengan tema tersebut. Mungkin karena sekarang lebih mengerti jalinan kisah percintaan. (dulu cuma bisa bengong kalau nonton film dengan tema seperti itu, tapi sekarang sudah bisa merasakan yang namanya terharu). Tapi tetap saja aku tidak bisa membaca novel romance dengan setting jaman sekarang-jaman modern, karena rasanya seperti bacaan yang terlalu mudah (no-offense, semua kembali kepada selera). Sehingga aku tertarik kepada genre historical romance. Aku baru tahu ada genre seperti itu. Kebetulan demam Jane Austen sedang melanda, dan karena aku memang suka yang klasik. Jadi rasanya klop.
Pilihan jatuh kepada Julia Quinn, kebetulan merupakan novel yang baru terbit, dan aku tertarik pada novelnya yang berjudul “Romancing Mr. Bridgerton”. Sinopsisnya menarik. Dan aku mulai membacanya. Bagi yang sudah pernah membaca karya Julia Quinn khususnya yang menceritakan Bridgerton Family, siapa yang tidak akan terpesona oleh keberadaan keluarga Bridgerton ini. Semua orang jelas-jelas akan menyukai mereka. Seperti yang penulisnya gambarkan di dalam novelnya. Delapan bersaudara, empat pria dan empat wanita, dengan nama yang berurutan seperti alfabet: Anthony, Benedict, Colin, Daphne, Eloise, Fransesca, Gregory, dan Hyacinth, mempunyai tipe wajah yang nyaris sama, tampan-cantik dengan rambut cokelat, dan dengan pembawaan yang menyenangkan! Sungguh menyenangkan membaca kisah percintaan mereka.
Dari empat novel Bridgerton yang sudah kubaca, kusimpulkan kalau novel-novel ini menyenangkan, dengan konflik yang terasa ‘menyenangkan’ dalam artian meskipun ada yang sedih, tapi pembaca dijamin tetap akan merasa bahagia. Karena memang atmosfer utama yang terasa adalah menyenangkan. Dan karena sifat tiga laki-laki tertua yang sungguh menjadi idaman para wanita (kalau memang nyata), membuat kita yang membaca seringkali tersenyum sendiri membayangkan tingkah laku mereka.
Dan pengarang yang kedua adalah Lisa Kleypas. Aku membaca novelnya yang berjudul “Devil in Winter”, karena sinopsisnya yang cukup menjanjikan. Jalinan cerita yang bagus, aku sangat terharu hingga menangis. Ya, bisa disimpulkan kalau Lisa Kleypas ahli dalam membuat cerita seperti ini. Konfliknya terasa jelas, dengan cerita yang lebih menghebohkan. Karena sangat suka pada satu tokoh yang bukan tokoh utama yaitu Cam Rohan, aku membaca novelnya yang lain dengan judul “Mine till Midnight” dengan Cam Rohan menjadi tokoh pria utamanya. (Oh ya, satu hal yang tidak kumengerti adalah alasan atau pertimbangan Lisa Kleypas dalam memberikan judul pada novel-novelnya). Sayang sekali novel kedua yang kubaca sedikit mengecewakan. Dengan jalinan cerita khas Lisa Kleypas, sedikit mendayu-dayu dan spektakuler, tapi endingnya terasa biasa saja. Sayang sekali.
Dan yang terakhir adalah karya dari Eloisa James, dengan judul “Pleasure for Pleasure”. (katanya judul novelnya terinspirasi dari salah satu karya William Shakespeare yang berjudul “Measure for Measure” – kalau aku tidak salah mengutip). Karena sudah membaca karya-karya dari dua pengarang berbeda, ketika membaca novel yang satu ini, tentu saja ekspektasiku menjadi cukup berlebih. Kebetulan novel ini salah satu dari novel yang menceritakan tentang empat gadis Essex bersaudara, dan menceritakan adik terakhir yang belum mendapatkan jodohnya. Karena aku memilih novel terakhir, dan belum pernah membaca novel sebelumnya, tentu saja aku menjadi asing dengan para tokohnya. Dan ada satu perbedaan besar yang membuat aku bingung pada awalnya, penceritaannya dari semua sudut pandang para tokoh di dalam cerita! Dan tentu saja hal ini membuat aku tidak bisa menebak ceritanya atau kemungkinan tokoh utama akan berakhir dengan siapa, karena banyaknya kemungkinan yang tercipta. Berusaha menebak-nebak dan ternyata benar. Menjadikan novel ini menarik, karena dari sudut pandang semua orang. Dan tentu saja membuat hal tersebut menjadi kelemahan utama karena pendalaman karakternya menjadi berkurang. Tapi mungkin tidak seperti itu jika aku membaca tiga novel sebelumnya.
Dan dari ketiga pengarang tersebut, aku akan menyoroti bagian keintimannya (dalam arti sebenarnya). Karena novel-novel tersebut adalah novel dewasa, jadi aku memaklumi kalau akan muncul cerita mengenai bagian tersebut. Cuma yang menjadi sorotan adalah, seberapa penting bagian tersebut harus muncul, dan seeksplisit apakah penceritaannya, karena novel-novel tersebut bukanlah jenis novel erotica, tapi novel romance! Karena jika penceritaan bagian tersebut menjadi lebih eksplisit, tentu saja ceritanya akan menjadi lebih bergeser, dari penekanan romance beralih menuju kegiatan yang berakhir itu-itu saja.
Kekecewaan yang aku dapat ketika membaca novel Lisa Kleypas “Mine till Midnight”. Jalinan cerita yang sudah bagus tetapi endingnya tidak menggigit, seperti dipaksa selesai. Mungkin karena ada banyak halaman yang diboroskan untuk menjelaskan secara eksplisit tindakan kedua tokoh utamanya. Kalau cuma sekali bisa dimaklumi, kalau berkali-kali? Sangat disayangkan.
Di novel-novel Julia Quinn, munculnya adegan tersebut tentu juga ada, tapi bahasa penceritaannya cukup ‘lembut, tidak terlalu eksplisit. Sehingga bisa dipastikan cerita tetap berjalan di jalurnya.
Dan yang paling menyenangkan adalah ketika membaca Pleasure for Pleasure nya Eloisa James. Pertama aku pikir, jangan-jangan ini salah satu novel eksplisit lagi, karena membaca setiap kutipan memoar Earl of Hellgate di tiap awal bab (seperti lembar lady Whistledown di beberapa karya Julia Quinn). Tapi itu seperti tipuan, karena di novel ini sungguh-sungguh tidak eksplisit! Cuma ada satu, dan dimaklumi. Sehingga tidak ada halaman yang terbuang-buang. Ceritanya menjadi sangat konsisten, dengan terkuaknya beberapa misteri yang menjadi bumbu dalam cerita.
Novel terakhir yang kubaca yang menyenangkan. Karena aku terlalu banyak membaca novel seperti ini (sama kasusnya ketika aku dulu terlalu banyak membaca novel misteri), yang lama-lama akan terasa membosankan. Seperti pepatah atau hadits? Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Sehingga setelah ini aku akan membaca buku mengenai ESQ. Diwajibkan oleh abahku untuk kubaca, untuk mengimbangi terlalu banyaknya buku duniawi yang kubaca. Hal ini juga bagus buatku, memberikanku perspektif baru tentunya, dan juga yang kuharapkan, semangat baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar